CATATAN KAKI
RSS
Karena ada JEJAK LANGKAH yang perlu dicatat

kuntawiaji:

Suatu hari nanti, kalian semua akan jatuh cinta tanpa dibuat-buat.
Tanpa perasaan posesif kekanak-kanakan atau rasa ingin pamer kasih sayang yang berlebihan.

Akan kalian temui seseorang yang membuat kalian jatuh hati tanpa alasan. 
Yang membuat kalian tidak takut pada jutaan omong kosong soal sakitnya patah hati.
Yang membuat kalian menjadi diri kalian sendiri.
Tidak dengan ucapan manis atau perilaku yang berpura-pura.
Kalian akan jatuh cinta dengan seadanya, tapi juga dengan segalanya.


Kalian akan jatuh cinta dan berani mempertanggungjawabkannya. 
Bukan dengan pujian palsu atau rasa kagum sesaat. 
Tapi dengan tatap mata dan rasa saling percaya.

Suatu waktu nanti akan datang seseorang yang datang dan membuat kalian jatuh cinta tanpa alasan,
Yang akan kalian jadikan prioritas,
Bukan sekedar kalian banggakan di media sosial tapi kalian bohongi di kehidupan nyata.

Suatu hari nanti, kalian akan bertemu seseorang yang akan mendengarkan cerita kalian di sisa hidupnya.
Yang akan membuat kalian paham benar apa itu arti kata sayang.
Yang membuat kalian tidak sabar untuk menghabiskan hari tua bersama, berdua, tanpa ragu, tanpa sempat terpikir untuk berpindah ke lain hati.

(Source: gilangkr)

[Flash 9 is required to listen to audio.]

Kita begitu berbeda dalam semua…

sebelasbintang:

“Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.” -soe hok gie-“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.” -soe hok gie-Saya tergelitik ketika membaca tulisan ini dari perspektif yang berbeda. Buat kalian para mahasiswa yg berdemo mengatas namakan kepentingan rakyat dan para pendukungnya. Yang merasa perbuatan mereka benar. Silahkan baca ini baik-baik.. “Kalian para MAHASISWA membawa nama kami di jalan. Berteriak sana-sini mengatas namakan kepentingan kami masyarakat Indonesia. Rakyat kecil, pegawai kecil, buruh, alih-alih membela kami kalian justru mengahncurkan fasilitas umum yang dibangun dengan uang dan keringat kami.Tak jarang kalian membuat kami ketakutan ngeri dengan perbuatan kalian. Kalian seperti binatang yg membabi buta. Tak jarang kalian bentrok dengan warga sekitar. WARGA=MASYARAKAT.Yang lebih lucu lagi dari protes kalian adalah Kalian merusak kantor-kantor, restoran cepat saji, showroom mobil, mobiil pengangkut minuman dan gas, tak jarang kalian menjarah isi nya. Dan kalian lupa, satpam, office boy, CS, pelayan, supir dan pegawai kecil lainya adalah kami MASYARAKAT INDONESIA!!Yang katanya kalian bela, tahu kah kalian wahai yang katanya MAHASISWA, kami supir taksi tak berani menarik penumpang karna takut terjebak ditengah keributan dan menjadi korban. Padahal keluarga kami butuh makan. Tahu kah kalian kami OB dan pegawai rendahan. Terpaksa harus mengeluarkan ongkos lebih banyak hanya untuk menghindari daerah kerusuhan yg kalian ciptakan. Apakah kalian pernah berfikir, kalian bukanya meringankan beban kami, kalian justru menambah beban kami, bisakah kalian berdemo dengan cara yang lebih mulia??!!Belajarlah, kembali kebangku kuliah kalian. Jadi lah juara. Jadilah orang hebat yang kelak memimpin negara ini, yang kelak jadi direktur, yang kelak jadi manager atau bahkan kelak jadi pengusaha hebat. Bukalah lapangan pekerjaan buat kami, majukanlah kami, kehidupankami rakyat miskin dengan cara yg lebih baik, majukanlah bangsa ini dengan prestasi kalian. Jangan biarkan simpati kami berubah menjadi antipati terhadap kalian, jangan biarkan arti MAHASISWA sama dengan PREMAN…”Pak Boedi Oetomo, Pak Hadjar Dewantara dan Koko Soe Hok Gie mungkin akan menangis melihat kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda yang bersifat anrkis dalam menyampaikan aspirasi yang katanya untuk “Wong Cilik”.“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.” -soe hok gie

sebelasbintang:

“Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.” -soe hok gie-

“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.” -soe hok gie-

Saya tergelitik ketika membaca tulisan ini dari perspektif yang berbeda. Buat kalian para mahasiswa yg berdemo mengatas namakan kepentingan rakyat dan para pendukungnya. Yang merasa perbuatan mereka benar. Silahkan baca ini baik-baik.. 

“Kalian para MAHASISWA membawa nama kami di jalan. Berteriak sana-sini mengatas namakan kepentingan kami masyarakat Indonesia. Rakyat kecil, pegawai kecil, buruh, alih-alih membela kami kalian justru mengahncurkan fasilitas umum yang dibangun dengan uang dan keringat kami.

Tak jarang kalian membuat kami ketakutan ngeri dengan perbuatan kalian. Kalian seperti binatang yg membabi buta. Tak jarang kalian bentrok dengan warga sekitar. WARGA=MASYARAKAT.

Yang lebih lucu lagi dari protes kalian adalah Kalian merusak kantor-kantor, restoran cepat saji, showroom mobil, mobiil pengangkut minuman dan gas, tak jarang kalian menjarah isi nya. Dan kalian lupa, satpam, office boy, CS, pelayan, supir dan pegawai kecil lainya adalah kami MASYARAKAT INDONESIA!!

Yang katanya kalian bela, tahu kah kalian wahai yang katanya MAHASISWA, kami supir taksi tak berani menarik penumpang karna takut terjebak ditengah keributan dan menjadi korban. Padahal keluarga kami butuh makan. Tahu kah kalian kami OB dan pegawai rendahan. Terpaksa harus mengeluarkan ongkos lebih banyak hanya untuk menghindari daerah kerusuhan yg kalian ciptakan. Apakah kalian pernah berfikir, kalian bukanya meringankan beban kami, kalian justru menambah beban kami, bisakah kalian berdemo dengan cara yang lebih mulia??!!

Belajarlah, kembali kebangku kuliah kalian. Jadi lah juara. Jadilah orang hebat yang kelak memimpin negara ini, yang kelak jadi direktur, yang kelak jadi manager atau bahkan kelak jadi pengusaha hebat. Bukalah lapangan pekerjaan buat kami, majukanlah kami, kehidupankami rakyat miskin dengan cara yg lebih baik, majukanlah bangsa ini dengan prestasi kalian. Jangan biarkan simpati kami berubah menjadi antipati terhadap kalian, jangan biarkan arti MAHASISWA sama dengan PREMAN…”

Pak Boedi Oetomo, Pak Hadjar Dewantara dan Koko Soe Hok Gie mungkin akan menangis melihat kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda yang bersifat anrkis dalam menyampaikan aspirasi yang katanya untuk “Wong Cilik”.

“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.” -soe hok gie


kuntawiaji:

Hidup adalah belajar:

1. Belajar bersyukur meski tak cukup.
2. Belajar ikhlas meski tak rela.
3. Belajar taat meski berat.
4. Belajar memahami meski tak sehati.
5. Belajar sabar meski terbebani.
6. Belajar setia meski tergoda.
7. Belajar memberi meski tak seberapa.

(Source: rifkihidayat)

“You gotta relax and stay calm in there. You set the pace. You set the rhythm. Feel the Beethoven. Be smarter than him, more patient. Wait for him to make a mistake. And when he does, that’s your moment”

“You gotta relax and stay calm in there. You set the pace. You set the rhythm. Feel the Beethoven. Be smarter than him, more patient. Wait for him to make a mistake. And when he does, that’s your moment”

Kalo kita gak berjuang sekuat tenaga saat ini dan memilih untuk bersantai-santai dengan dalih,”mumpung masih muda”,maka jangan pernah menyesal kalo kita akan berjuang mati-matian dan tertatih-tatih menjalani kehidupan di masa depan nanti dan berkata,”seandainya sewaktu muda dulu saya melakukan a,b,c,d,e,…”

Di masa depan nanti,setiap orang menuai apa yang dia lakukan hari ini!

“‎Sesungguhnya kita tidak pernah kecewa pada seseorang, kita kecewa karena harapan yg telah kita bangun sendiri pada seseorang tersebut.”

Rangga Umara (via kuntawiaji)

“Masalahnya penerimaan itu bukan sesuatu yang sederhana. Banyak sekali orang-orang di dunia ini yang selalu berpura-pura. Berpura-pura menerima tapi hatinya berdusta. Kita semua harus berlatih susah payah untuk belajar menerima.”

Tere-Liye (via kuntawiaji)

“To change is To understand.Gimana kita bisa mengubah seseorang kalo kita gak bisa masuk ke alam berpikir mereka”

— Pak Budi,Dosen PPSDM

“DON’T GO WITH THE FLOW.MAKE YOUR OWN FLOW!”

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin mambakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi

Sapardi Djoko Damono

Perjalanan kita selama ini ternyata tanpa tanda baca,tak ada huruf kapital di awalnya. Yang tak kita ingat aksara apa. Kita tak pernah yakin apakah titik mesti ada;
tanpa tanda petik, huruf demi huruf berderet rapat – dan setiap kali terlepas, kita pun segera merasa gerah lagi dihimpitnya.

Tanpa pernah bisa membaca ulang dengan cermat harus terus kita susun kalimat demi kalimat ini – tanpa perlu merisaukan apakah semua nanti mampat pada sebuah tanda tanya.

Tapi, bukankah kita sudah mencari jawaban, sudah tahu apa yang harus kita contreng jika tersedia pilihan? Dan kemudian memulai lagi merakit alinea demi alinea, menyusun sebuah dongeng?
Tapi bukankah tak ada huruf kapital ketika kita bicara?
Bukankah kisah cinta memang tak memerlukan tanda baca?

Sapardi Djoko Damono

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

Sapardi Djoko Darmono

(Source: smoothgraph)

UNFORGETTABLE MOMENT-FINAL BADMINTON 26th SEA GAMES , 2011 :) :) :)

Seru banget jadi suporter bareng dean,irza,widya,nurul, dan intan. Pas pulang ada tambahan teman, winda. Sebelum balik ke Depok, nobar bola di FX sambil makan-makan. Keluar FX terjebak macet parah karna suporter di GBK akhirnya pulang stelah pertandingan selesai. Dan Alhamdulillah sampai juga di Depok dengan selamat :). Fabulous weekend!

Thank you banget untuk Widya atas tumpangannya dan kesabarannya dalam menyetir :* :)

“Ada dua pilihan dalam hidup yang harus dipikir dengan matang. 1. Jodoh, 2. Profesi. Jangan main-main dalam memilih, karena kau akan menghabiskan lebih dari separuh hidupmu dengan keduanya. Ada banyak sekali orang yang separuh hidupnya dihabiskan dengan penderitaan karena memilih kekasih dan profesi yang tidak sesuai dengan kepribadiannya. Bukan sekedar indahnya paras, yang terpenting justru kesesuaian pribadinya dengan pribadimu. Itulah jodoh. Bukan sekedar besarnya gaji, yang terpenting adalah yang membahagiakanmu, itulah rezekimu.”

Ahmad Rifa’i Rif’an (via kuntawiaji)